KULIAH TAMU “Meningkatkan Kualitas Calon Pendidik di MI/SD pada Era Digital 4.0 dan Society 5.0â€.
- Diposting Oleh Admin Web Prodi PGMI
- Senin, 27 Februari 2023
- Dilihat 94 Kali
Seiring dengan hadirnya globalisasi di tengah-tengah masyarakat memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat saat ini yang juga melahirkan Era digital 4.0 dan society 5.0 dengan berkembangnya teknologi yang semakin pesat. Pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi, menjadikan masyarakat Indonesia semakin mudah dalam memperoleh berbagai macam informasi. Tentunya segala informasi akan memberikan dampak yang negatif maupun positif. Terlebih lagi terhadap generasi muda (mahasiswa) perlunya menanamkan karakter sebagai sarana penyaring dampak dari era globalisasi dan era digitalisasi yang tidak bisa dicegah. Untuk menghindari dampak negatif tersebut, mahasiswa perlu diberikan penguatan kualitas calon pendidik di MI/SD melalui kegiatan seminar pendidikan. Karena melalui kegiatan ini akan menghasilkan calon pendidik yang memiliki kreatifitas dalam mengajar, kesabaran, kerjasama, tanggung jawab, kepedulian social, keberanian, kepercayaan diri, kreatif, religious, patriotis, jujur dll.
Kegiatan kuliah tamu dengan tema “Meningkatkan Kualitas Calon Pendidik di MI/SD pada Era Digital 4.0 dan Society 5.0” narasumbernya adalah Bapak Mohamad Nurahman selaku Guru SD Anak Saleh. Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain:
1. Membentuk kualitas calon pendidik di MI/SD.
2. Memberikan arahan untuk menjadi calon pendidik yang kreatif dalam mengelola pembelajaran.
3. Membentuk karakter/ kepribadian yang mulia dalam diri mahasiswa.
4. Menggali dan menegnali potensi diri dan meningkatkan keterampilan mahasiswa
5. Menghindari dampak negatif era digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Materi yang disampaikan oleh narasumber terdiri dari:
1. Beda generasi beda tata cara komunikasi, sehingga perlunya calon guru MI/SD memahami karakteristik generasi untuk membuat sebuah formulasi.
2. Calon pendidik MI/SD perlu mempersiapkan diri pada era digital 4.0 dan society 5.0 dengan melakukan upgrading setiap tahun.
3. Adanya beberapa permasalahan yang ada di Indonesia adalah pendidik, kurikulum, literasi & kebijakan politik terhadap pendidikan. Ujung tombak pendidikan adalah pendidik, kualitas siswa sangat ditentukan oleh kualitas pendidik.
4. Pendidik adalah orang yang berkontribusi dalam pendidikan adalah guru, dosen, orang tua, fasilitator & relawan. Sehingga guru MI/SD harus mampu berkolaborasi dengan orang tua siswa & masyarakat
5. Tekhnologi memudahkan interaksi antara guru dan siswa. Tetapi guru yang tidak mampu melakukan improvisasi dalam kegiatan pembelajaran, maka tekhnologi tidak akan menarik bagi siswa
6. Kompetensi guru abad 21, yaitu: memiliki kemampuan public speaking, memiliki kemampuan ice breaking yang kreatif, menguasai tekhnologi, mampu mendesain media pembelajaran, menguasai berbagai model pembelajaran, dan menguasai ilmu parenting.
7. Kiat membuka pembelajaran adalah memastikan semua peserta dalam keadaan bahagia, membuka kelas pembelajaran dengan salam semangat, bertanya kabar dengan menggelegar, buat yel-yel pembelajaran, antarkan peserta didik ke zona alfa, dan membuat kontrak pembelajaran yang menarik.
8. Mengelola kelas dengan kreatif, yaitu: tampilan yang bersih dan wangi, mulailah dengan kelas yang menyenangkan, atur posisi tempat belajar yang nyaman, berbicara dengan sistematis dan gunakan gesture tubuh dengan baik, bergerak saat mengajar, gunakan bahan ajar yang menarik, setiap 20 menit melakukan improvisasi, menutup pembelajaran dengan kalimat-kalimat penuh hikmah dan kebaikan.
9. Era society 5.0 diperkenalkan oleh jepang pada tahun 2019, yang dibuat sebagai antisipasi dari gejolak distrupsi akibat revolusi industri 4.0. Dikhawatirkan invansi tersebut dapat menggerus nilai-nilai adat ketimuran menjadi nilai kebaratan.
10. Pendidik professional di era 5.0 ini dibutuhkan kemampuan 6 literasi dasar, yaitu: kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi digital. Kemudian literasi tekhnologi, memahami cara kerja mesin, aplikasi tekhnologi. Terakhir adalah literasi manusia, yaitu humanities, komunikasi dan desain.
Pertanyaan dari audien beserta jawaban dari pemateri, yaitu:
1. Bagaimanakah peran pendidik dalam menghalau efek negatif dari tekhnologi?
Perannya adalah menjadi fasilitator terbentuknya media yang memberikan dorongan positif dalam meningkatkan karakter para peserta didik. Sebagai calon pendidik, anda memiliki peran aktif dalam menjadi kakak pembina. Dengan memberikan contoh keteladanan dan membuat konten yang positif dalam penggunaan media sosial.
2. Bagaimanakah calon pendidik menghadapi era digital 4.0?
Melakukan sebuah upgrading, dengan memperbanyak skill dalam proses penggunaan tekhnologi. Serta melakukan sebuah improvisasi dalam melakukan sebuah komunikasi.
3. Bagaimanakah cara mengetahui kualitas guru yang baik?
Tentunya dengan mengetahui materi yang disampaikan oleh guru dapat disampaikan kepada peserta didik dengan baik. Peserta didik memahami materi yang disampaikan guru.
4. Bagaimana peran era society 5.0 dalam pendidikan Indonesia?
Perannya adanya moderasi beragama yang lebih baik untuk pendidikan Indonesia tanpa adanya perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
5. Bagaimana cara memahami karakteristik peserta didik di MI/SD?
Cara paling jitu memahami karakteristik peserta didik di MI/SD, bertemanlah dahulu dengan peserta didik dan ikutilah dunia mereka. Agar anda mampu mengetahui karakteristik peserta didik dan membuat formulasi yang tepat.
6. Bagaimana peran pemerintah dalam meningkatkan kualitas guru di MI/SD?
Peran pemerintah dalam meningkatkan kualitas guru di MI/SD dengan mengadakan seminar nasional, KKG, rapat gudep, adanya rekruitmen P3K, PNS dan lain sebagainya yang menunjang pendidikan Indonesia.
Sepintas hasil diskusi dari kegiatan ini, yakni: Pentingnya kualitas calon pendidik di MI/SD di era digital 4.0 dan society 5.0, untuk mencetak generasi emas Indonesia di masa yang akan datang. Pahami perbedaan generasi dan cara berkomunikasi, sehingga proses pembelajaran akan lebih menarik. Menjadi guru yang kreatif dengan memanfaatkan tekhnologi, serta mampu melakukan sebuah improvisasi dalam proses pembelajaran.